Rabu, 28 November 2012

Hari Itu


"A day we met, frozen I held my breath. Right from the start, I know that I found a home for my heart" - A Thousand Years pt 2 (Christina Perri ft Steve Kazee)
Aku akui. Hari itu pada hari perjumpaan kita yang pertama dalam ruangan yang sama, aku sedikit mengagumimu. Mengagumi kacamata berbingkai persegi panjangmu, maksudku.

Tapi tidak bisa disangkal kala perkenalan itu. Kamu-aku, tanganmu-tanganku, untuk pertama kalinya berjabat. Aku merasakan hangat menjalari seluruh tubuhku. Seakan jutaaan ton listrik menyengat, tapi terasa hangat, dan akan tertancap di memori otakku untuk kuingat.

Kamu menyebutkan namamu dengan senyum lengkung bibir merahmu. Dan aku membalasnya dengan salah tingkah, mengucap namaku terpatah-patah, seakan namaku hancur terpanah. Kamu mengerutkan alis tebalmu, mengucap namaku perlahan dan aku tersenyum semu, menganggukan kepalaku. Kamu berhasil mencuri perhatianku, di hari itu.

Di hari itu, aku mulai belajar untuk melupakan masa lalu, karenamu. Mengubur semua rindu, menghanyutkan kenangan yang beribu. Membuka lembaran baru. Perlahan tapi pasti perasaanku padanya membeku. Aku tahu, hari itu adalah awal dari semua persaaanku, padamu.

Mencari informasi tentangmu, yang pada hari itu, aku mengetahui team sepak bola dengan warna biru, adalah favoritmu, mencuri-curi pandang akan hadirmu, mendengarkan tawamu. Semua aku mulai di hari itu. Hari pertama kita bertemu.

Senin, 08 Oktober 2012

Bolehkah aku, menceritakannya di sini?



Dia duduk di sana. Aku di sini.... terpisah delapan ubin keramik berwarna cream, empat meja dan empat kursi. Ah, andai aku bisa menghapus jarak ini, ubin ini....

Kami sama-sama tampak sedang memikirkan sesuatu. Dia tampak membenahkan kaca matanya sambil menerawang jauh.   
Aku memandangnya dengan seksama. Struktur wajahnya yang lonjong, hidungnya yang tidak mancung, tapi juga tidak mancung ke dalam. 
Haha... bibirnya yang membentuk senyuman termanis jika dilengkungkan ke atas, tubuhnya yang jakung, kulitnya yang hitam karena terbakar sinar matahari ketika menjalankan aktifitas outdoor ekskulnya, dan jam tangan hitam khasnya. 
Semuanya nampak begitu indah....


Kami berdua sama-sama duduk di kursi berwarna sama, di ruangan yang sama, seragam yang tentunya juga sama, dan kami sama-sama tampak menerawang jauh, memikirkan sesuatu. 


Sekilas ia menyunggingkan senyumnya dan berdiri dari bangkunya. 
Aku melihatnya berjalan ke arahku, menggandeng tanganku dan kami berjalan menyusuri koridor sekolah, berdua. 
Kami menuju parkiran sepeda motor dan dia mengerlingkan matanya tanda mengajakku untuk duduk di belakangnya. Aku mengerutkan alisku, dia hanya menepuk tempat duduk di belakangnya dengan tertawa renyah. Aku berkedip lama, aku harus kembali.


Dan, ya! Aku kembali. Yang aku lihat semuanya adalah fana. Imajinasi belaka. Aku masih terduduk di bangku kelas ini. Mimpi apa dia akan memperlakukanku seperti itu? Karena yang sebenarnya terjadi adalah ketika dia berdiri dari tempat duduknya, dan menghampiri wanita lain....

yang mungkin dicintainya.

dengan penuh perasaan,
pojok kelas

Jumat, 04 November 2011

Friday Night with love

untukmu,
penarik-ulur ulung perasaanku

seharusnya ini malam bahagiaku, Friday Night must be perfect for me. no sadness. tapi yang kali ini berbeda.
Malam Sabtu tanpa bintang-bintang bertaburan.
Malam Sabtu yang hanya ditemani lagu-lagu melankolis dan rintik hujan yang membuat udara dingin menusuk tulang.
aku merasa gagal untuk memendam perasaanku padamu ini dalam-dalam.
aku rasa aku telah berpindah hati, tapi ternyata aku salah.
malam ini, kamu kembali menggali lubang yang telah ku tutup rapat-rapat.
mengobrak-abrik semua rencana yang hampir berhasil
yang telah ku susun matang-matang.
aku sudah lelah untuk berpura-pura baik-baik saja.
aku terlalu lelah untuk memasang senyuman palsu ini.
aku sudah tidak betah menyembunyikan air mata di balik bantal.
andai hujan mampu menutup kembali lubang yang kembali menganga ini
andai saja dingin yang menusuk tulang ini akan membekukan hati ini untuknnya.
dan andai perandaian ini tidak sekedar perandaian belaka.
aku sudah pasrah.
aku akan memulai untuk mencintai, tanpa berharap balasan.
karena mengenalmu itu sudah cukup membuatku bahagia.
mungkin benar, Tuhan belum menghendaki kita untuk berpisah.
Dia akan melakukan 1000 cara agar aku dan kamu terus bertemu.
seakan-akan dunia ini sempit.

dari,
korban dari penarik-uluran perasaan olehmu

Friday Night with love.

Followers