Kamis, 18 September 2014

Tak Bertatap Muka, Tapi Bersandar Hati

http://images6.fanpop.com/image/photos/32900000/LDR-long-distance-relationships-32990232-480-328.jpg

Orang berkata, jangan mencintai seseorang hanya karena kamu melihat fisiknya yang indah.
aku menuruti perkataan orang-orang tersebut.
jelas sajalah, kita bahkan tak pernah bertemu.
Orang berkata, dialah orangnya ketika dia memberi efek "hmmp" di perutmu. membuat perutmu tergelitik dan napas terasa sesak.
apa mungkin kamu orangnya?
semua pesan-pesanmu yang masuk, getarnya tidak pernah menggelitik pahaku, mengingat alat kecil ini selalu kuletakkan di saku celana.
ia menggelitik tepat di perutku, semuanya terasa teraduk namun tidak membuatku mual.
itulah efek "hmmp"
dan detik saat aku membaca pesanmu, di situlah aku terus-terusan menahan napas.
semua terasa sesak hingga tanda titik di akhir pembicaraan menyadarkanku untuk kembali menghirup oksigen.
Kita memang tak bertatap muka, ya mau bagaimana lagi?
kita dipisahkan oleh jarak sejauh ribuan kilometer.
Tapi aku bersandar hati.
mau tak mau, suka tak suka, bukan aku yang memilih.


dan kisah ini akan terus berlanjut..
hingga batas waktu yang sudah ditentukan oleh Tuhan

Minggu, 27 Oktober 2013

Benda yang ditemukan (Lagi)


Ini sudah larut malam dan aku masih bimbang.
Aku yang sudah memutuskan untuk membekukan benda ini, untuk mengawetkannya meski isinya sudah tak ada lagi (untuk investasi masa depan, haha) semenjak tergores parah (dan tak sempat ku perbaiki). Tergores paku, lalu ditancapkan. Dan benda ini tak akan pernah sama. Walau sudah beregenerasi menjadi yang baru.

Angin berhembus membunyikan desingannya, sekali lagi aku masih bimbang.
Aku sudah menyembunyikan benda ini ditumpukan paling bawah, belakang, pojok sebuah lemari pembeku. Tapi kau tetap menemukannya. Seakan belum puas merusaknya, kau melumerkannya. Apakah berusaha menggoresnya untuk kesekian kali kembali? Aku yakin iya.
Tolong, aku memohon untuk mengembalikan benda itu ke tempatnya kembali. Biarkan dia membeku kosong di lemari pembeku. Aku mohon jangan melukainya jika memang ingin melumerkannya. Isi namun jangan pernah ambil kembali isinya, perbaiki dan jangan goreskan luka lagi padanya.

Ini berawal di waktu dulu.....
Tatap mata kita bertemu. Aku sedikit iritasi padamu. Tak perlu kusebutkan mengapa, karena aku juga tak tahu alasannya. Tapi mereka mempertemukan kita. Mulailah benda itu terisi olehmu. Aku harap kamu tak akan pernah mengosongkannya. Semuanya berjalan baik-baik saja. Hingga pada waktu itu, antara dulu – dan sekarang.

Benda yang sudah terisi penuh tiba-tiba saja kau gores tanpa alasan yang jelas. Seakan belum puas, kau tancapkan paku, dan melepaskannya. Benda itu terluka, semua isinya tumpah, hampir saja dinding-dindingnya menempel satu sama lain. Untung saja aku, pemilik benda itu dengan cekatan mengawetkannya sebelum dindingnya menempel satu sama lain dan tak akan bisa diisi kembali. Ketika benda itu berubah menjadi biru karenamu, kamu memerahkan benda lain, milik orang lain.
Ternyata ini semua belum berakhir. Masih ada chapter II. Sekarang di mana aku masih belum tahu, akan kau apakan benda itu, setelah kau menemukannya.

Selasa, 11 Juni 2013

Bukan yang Terakhir, Semoga


Pagi itu kita sama-sama berangkat sekolah dengan sejuta harapan. Aku berharap agar ujian prakterkku hari ini lulus dengan mulus, dan kamu berharap agar ujianmu lulus lolos. Pagi itu aku juga mengirim pesan padamu jangan lupa berdoa untuk kelulusanmu, dan kamu juga berpesan padaku untuk hal serupa. Kita merapal doa untuk aku, kamu, kita.
Siang itu senyummu lebar sekali. Aku yang masih belum bisa tersenyum sepertimu karena ujianku belum selesai, setidaknya bisa sedikit lega akan kabar bahagiamu. Selamat, lulus, dan nilaimu dapat membuat orang tuamu tersenyum. Dari sini, aku melihatmu mencorat-coret seragam putih abu-abu. Rambut hitammu berubah menjadi warna-warni pewarna yang disemprotkan temanmu. Sekilas kita bertatap mata, saling bertelepati mengabarkan berita. Melempar senyum. Dan semuanya kembali seperti semua. Seolah tidak terjadi apa-apa dan kembali menutupinya. Aku bisa menangkap telepati itu. Kamu berpesan untuk menemuimu di tempat seperti biasa.
Sore itu setelah ujianku selesai, aku berpamitan dengan teman-temanku dan pergi menuju tempat kita menawarkan rasa rindu. Seperti biasa, kita terduduk di meja nomor tujuh, dengan sofa berwarna biru dan meja abu-abu. Kamu memulai percakapan sore itu,
“Gimana, ujian kamu?”
“Gagal. Satu kelas mengulang. Lusa. Tapi aku tidak bisa hadir”
“Lalu? Sabarkan dirimu, beliau memang seperti itu”
“Biarkan saja. Selamat ya” ucapku dengan nada bergetar. Kamu menatap kaca-kaca yang terlukis jelas di mataku.
“Bibirnya jangan digigit. Nanti berdarah” ucapmu lembut, menyunggingkan senyum.
“Tanda tangani bajuku, di bagian sini. Sedari tadi aku tempeli selotip besar, aku menyisakan ruang tanda tanganmu” lanjutmu melepas selotip bening yang sudah ternodai oleh warna-warni pewarna yang berada tepat di atas saku berlambang OSIS-mu. Tak lupa kamu menyodorkan spidol biru.
“Sudah” ucapku meremas rok seragamku.
“Kamu sudah jadi bagian dari seragamku haha” namun aku diam tak menanggapi kalimatmu kali ini. Kamu tahu.
“Strenght does matter. Not with distance” ucapmu seraya membaca pikiranku.
“UHUK!” suara segerombolan siswa-siswi angkatanmu terdengar jelas. Nampaknya kamu memang sengaja memunculkan mereka. Sudah bosan dengan bersembunyikah kamu?
Maukah kamu menjaga agar semua ini tetap rahasia?
Tentu
Bisa membungkam temanmu?
Bisa, untuk kamu.
Setidaknya itu yang ku baca dari sinar matamu. Selamat, semoga sampai tujuan.

Followers