Jumat, 06 Februari 2015

You had Me At Your....

Source : http://41.media.tumblr.com/906ea58258c98a62c007cc16fb5e328a/tumblr_mpyfa8piiA1qb1paxo1_500.png (This is also Taylor Swift's song titled Come Back.. Be Here)  

Aku sudah beberapa jam membolak-balikkan tubuhku di kasur. Bahkan ibu sudah berkali-kali menegur aku ini manusia atau ikan yang terdampar di daratan. Aku menarik keras rambut hitam panjangku hingga beberapa di antaranya patah, kemudian menghembuskan nafas melalui mulut untuk memainkan rambut.

Aku menyedihkan.

Begitu pikirku. Aku sudah kenyang dengan cerita jatuh cinta diam-diam. Bahkan aku sudah muak. Ceritanya begitu-begitu saja. Sang "korban" akan mengirim ratusan kode, yang tak akan pernah berani ku lakukan. Atau sang "korban" akan menggigit jari setelah mengetahui objek memadu kasih dengan yang lain. Dan aku tak mau itu terjadi kepadaku.

Kamu hebat, membuatku seperti ini. Maksudku, tanpa pernah kita bertatap muka, hanya dengan beberapa pembicaraan sederhana-dan tidak penting (bagimu) di layar sekian inch kamu bisa membuat kupu-kupu di perutku berterbangan kesana-kemari.
Catat; kita belum pernah bertemu dan aku sudah seperti ini.

Aku hanya bisa tertawa melihat diriku saat ini; membangun imej wanita dingin, sarkastik, tidak sedang memikirkan cinta dan sedang menikmati hidup dengan pasangan bernama makanan-padahal aku sedang mendapat asupan bahan bakar untuk perasaan menggelitik yang sering disebut dengan suka-sayang-cinta. Dengan kata lain, aku diam-diam ingin terus jatuh cinta namun aku terlalu malu untuk mengakuinya. Malu pada diriku sendiri, karena bisa jadi aku terbodohi lagi.

Selamat, you had me at "PING!!!" and those physic, chemist, sport, math, biology things.



PS: I found this on my phone notes after several months.

Sabtu, 31 Januari 2015

dari Mentari di Ujung Langit

source: http://www.titanui.com/wp-content/uploads/2013/05/08/Vector-Blue-Sky-with-White-Clouds-Background-03.jpg

Air menyandarkan tubuhnya pelan pada Awan. Awan menggendong Air di punggungnya. Air membiarkan tubuhnya dibawa kemanapun Awan ingin pergi; maksudku, tentu saja Air akan menurut pada Awan yang dicintainya.

"Apa kamu tidak letih, terus menerus aku bawa kesana-kemari?" tanya Awan memecah keheningan senja. Senja di musim gugur tahun ini.

"Tidak. Tentu saja aku tidak letih, aku juga tidak keberatan. Bagaimana denganmu? Tidakkah kamu letih membawaku kesana-kemari?" sahut Air yang kini menatap lurus pada wajah keras Awan.

"Air, sekalipun Tuhan tidak mentakdirkan kita untuk bersama; aku sama sekali tidak letih, aku bahkan akan terus melakukannya" jawab Awan, membalas menatap wajah Air.

"Tapi, aku akan terus begini. Aku akan terus bersikap seperti ini padamu. Tubuhmu akan letih" canda Air. Awan hanya terdiam, dan beberapa detik keheningan kemudian yang akhirnya terpecah oleh suara Awan.

"Kamu benar, Air. Aku akan letih. Kita bahkan tak bisa seperti ini selamanya, maksudku; kau tahu bahwa aku akan selalu tinggal di Kota Langit, sedangkan kamu? Kamu ditakdirkan untuk menjalani hidupmu di berbagai macam kota, membaktikan dirimu untuk mereka" jawab Awan sedikit menurunkan gendongannya.

"Jangan Awan! Aku hanya bercanda! Jangan lepaskan aku, aku mohon.... " Awan terdiam. terus perlahan menurunkan gendongannya.

"Awan, setidaknya izinkan aku memberimu salam perpisahan?" Awan terus menjauhkan tubuhnya dari Air. Air akhirnya terlepas, Awan terus pergi menjauh, Air memejamkan matanya, ia terjatuh.















"Jangan menyakiti dirimu sendiri Air," suara dalam milik Hujan terdengar, seraya tubuh Air ditangkapnya. Air membuka matanya perlahan.

"Aku mencintainya, Hujan," jawab Air. Hujan merengkuh tubuh Air, memeluknya hangat.

Sedangkan mentari di ujung sana, menyeka serpihan hatinya yang patah. Dari sana, ia melihat Hujan yang sangat dicintainya memeluk Air, Air yang menangisi Awan, dan Awan yang sedang berenda gurau dengan Angin.

Sabtu, 06 Desember 2014

Movie Review; Mockingjay Part I

source: imdb
Cast:
- Jennifer Lawrence as Katniss Everdeen
- Liam Hemsworth as Gale
- Josh Hutcherson as Peeta
- Julianne Moore as President Alma Coin
- Philip Seymour Hoffman as Plutarch
Director:
- Francis Lawrence
Runtime:
- 123 minutes

Terbangun dalam kebingungan, Katniss (Jennifer Lawrence) terus mengingat-ingat Peeta. Lelaki itu sengaja ditinggalkan oleh para anggota pemberontakan yang dalam film ini dikisahkan bertempat tinggal di distrik 13, saat Katniss memanah hancur area pertandingan dalam film Catching Fire.

Dalam balutan rasa bersalah karena pemberontakannya membuat distrik tempat tinggalnya dihancurkan dan terjadi peperangan di manapun, Katniss terus diyakinkan oleh presiden distrik 13, Alma Coin (Julianne Moore), Plutarch dan juga kekasihnya, Gale untuk terus memimpin, menjadi maskot dalam pemberontakan ini. Katniss akhirnya bersedia untuk menjadi Mockingjay dengan syarat mereka harus menyelamatkan Peeta dan Annie, atas permintaan Finnick yang juga diselamatkan para pemberontak. Bagaimana aksi Gale, Katniss, Finnick dalam menyelamatkan Peeta dan sandera lainnya di Capitol?
"I have a message for President Snow: You can torture or bombed us, blasted our district to the grounds. But do you see that ? Fire Is Catching... If we burn, you burn with us!" - Katniss Everdeen
"I'm in pain. That's the only way I get your attention." - Gale

Film ini secara garis besar menceritakan tentang bagaimana para pemberontak menyusun rencana untuk melahirkan lebih banyak lagi pemberontak. Kisah kasih Gale dan Katniss lebih diekspose daripada film-film pendahulunya. Jika dalam film sebelumnya Gale hanya nampak beberapa detik saja, dalam film ini #TeamGale dapat tersenyum bahagia karena Liam Hemsworth akan berada di layar cukup lama (saya banget!). Sedangkan #TeamPeeta harus menahan rasa kecewanya karena Peeta hanya dinampakkan sedikit-sedikit saja.

Film ini sebenarnya sudah bagus. Hanya tidak sesuai dengan ekspektasi saya yang sangat tinggi setelah menamatkan novelnya. Sebagai pembuka Mockingjay, film ini kurang dapat membuat penontonnya terkesan. Awal cerita kurang menarik, bahkan cenderung membosankan. Saya hampir tertidur dalam bioskop!
Namun, setelah setengah jalan, film ini berubah menjadi film yang membuat jantung saya berdegup dengan keras. Adegan demi adegan menegangkan, dengan menarik dikisahkan oleh sang sutradara. Dalam film ini sendiri, ada adegan di mana Katniss menyanyikan Hanging Tree yang langsung masuk jajaran 40 besar billboard. Serius, lagunya dope! A bit creepy but it's just like a morphine!

Overall, film ini masih memasuki zona aman saya untuk dapat dinikmati dengan baik.
7,5/10

ps: bagi teamGale, jangan nonton sama pacarnya yah! bakal disewotin abis-abisan. Habisnya Gale kalau udah pegang senjata..... (isi sendiri) :p

Jumat, 31 Oktober 2014

Kepergian yang Mengembalikanku


Malam ini, aku tak sengaja membuka folder lama berisi kenangan..
Berisi semua riwayat chatting,
list lagu yang pernah kamu kirimkan jam sebelas malam, hanya karena aku tak bisa tidur,
surat-surat yang dulu kita saling tukar, diselipkan di pintu kelas, yang ku foto hanya untuk berjaga, andai saja hilang (walau tentunya masih tersimpan rapi)
foto kita berdua....
dan foto tanaman mawar putih, tanaman yang kita rawat bersama
dan mati kehausan, seperti kita.

Namun, aku akhirnya menyadari sesuatu yang berharga,
ketika hujan itu datang dan aku tenggelam dalam genangan,
aku tak lagi merasa sesak..
Akhirnya aku bisa bernafas kembali,
karena hari itu ketika kamu pergi,
jejakmu yang pelan terhapus waktu; membuatku hidup kembali...

I lost him, but I found myself and somehow that was everything :)

Selasa, 28 Oktober 2014

Movie Review; The Other Woman






Judul : The Other Woman


Release Date:

 25 April 2014

Runtime:

 
Cast :
- Cameron Diaz sebagai Carly Whitten
- Leslie Mann sebagai Kate King
- Nikolaj Coster-Waldau sebagai Mark King
- Kate Upton sebagai Amber

Carly bertemu dengan seorang pria bernama Mark, seorang lelaki muda dan kaya yang terus mengembangkan usahanya. Carly yang menyandang status single, akhirnya jatuh juga pada pelukan Mark. Hingga suatu hari, saat Carly mengundang Mark untuk makan malam bersama Carly dan ayahnya, Mark menolak untuk datang dengan alasan ada urusan bisnis mendadak yang sangat penting. Kesal, Carly akhirnya turun dari mobil dan menemui ayahnya sendiri. Berbekal saran dari ayahnya, Carly akhirnya berangkat menuju tempat "bisnis" Mark dengan pakaian seksi. Namun, apadaya jika yang ditemuinya adalah Kate King, istri dari Mark King. Carly-pun memutuskan untuk mundur dari hubungannya dengan Mark.

Suatu hari, saat Carly sedang bekerja, Kate  tiba-tiba mengunjungi kantornya. Kate ternyata meminta berteman dengan Carly, sedangkan Carly sendiri sebenarnya sudah tidak mau ambil pusing tentang Mark. Namun lama-kelamaan, Carly dan Kate akhirnya berteman. Pertemanan itu akhirnya menemukan sebuah fakta lain, ternyata Mark memiliki selingkuhan lain!

Dua wanita inipun menjadi mata-mata, yang memata-matai Mark dan selingkuhannya yang lain. Betapa terkejutnya mereka bahwa selingkuhan Mark yang satu ini memiliki wajah cantik dan tubuh indah. Merekapun memutuskan untuk berkenalan dan meminta pertemanan dengan Amber, selingkuhan Mark yang lainnya. Amber sendiri seperti Carly yang tidak mengetahui bahwa Mark sudah memiliki istri. Berbekal dendam dan sakit hati, tiga wanita ini menyiapkan rencana untuk balas dendam pada Mark. Bagaimana aksi balas dendam tiga wanita ini? 

Film ini sendiri mengangkat tema komedi romantis. Awal mula saya menonton ini karena ada Lessie Mann (gara-gara nonton 17 Again dan jealous waktu dia dicium Zac Efron, saya nyari deh siapa ini cewek!), dan juga Cameron Diaz. Kemudian saya baca di imdb, eh ceritanya tentang wanita-wanita yang diselingkuhin dan ingin balas dendam. Akhirnya minat saya untuk menonton film ini bertambah! Daripada saya balas dendam sendiri mending balas dendam via film, cuman bayangin replacing orang-orangnya :)) beberapa quotes yang masih berdenging di telinga saya antara lain;

"You screw me , I screw you back. I'm a lady like that" - Carly

"cry on the inside like a winner" - Carly

Menurut saya sendiri, saya cukup puas dengan film ini. Mungkin ada beberapa titik yang membuat saya bosan, namun bisa tertutupi oleh serunya aksi balas dendam pada Mark King.

Overall: 6/10

Minggu, 19 Oktober 2014

The Girl He Loves

"There was a man who once I knew,
for me there was no other.
The closer to loving me he grew,
the more he would grow further.

I tried to love him as his friend
then to love him as his lover;
but he never loved me in the end-
his heart was for another"

(unknown) 

Senin, 13 Oktober 2014

Firasat Benar, Semoga Salah.


https://s3.amazonaws.com/ksr/assets/000/336/514/a70018db8db3e2c4bdb21464817edc77_large.jpg?1358033093


aku menekan-nekan dadaku yang semakin sesak
menghirup udara yang terasa berdebu tanpa celah, menyesakkan
mengatakan pada diri sendiri, untuk jangan menangis.

07.10.14
Wanita itu membolak-balikkan badannya dengan resah. Memungut telepon genggamnya sebentar, kemudian meletakkannya kembali. Jatuh cinta memang kurang ajar, membuat otak susah beristirahat saja. Gumamnya serambi merasakan dentuman-dentuman kecil di dadanya.
Ia memutuskan untuk menyalakan televisi dan merebahkan badannya di sofa cokelat panjang, namun pandangannya tak bisa fokus -antara jam dinding dan televisi-

Matanya mulai terserang kantuk hebat, setelah seharian bekerja dan sempat lembur hingga pukul sepuluh. Jam menunjukkan pukul 00.00, ia menarik bibirnya secara simetris. Mengambil telepon genggamnya dan mulai mengetikkan kata-kata di layarnya
"Selamat ulang tahun, semoga umurmu panjang dan barokah, sukses selalu ya..."
Ia membaca kalimat singkat itu berulang-ulang, mendesah pelan dan memutuskan untuk menghapusnya
Toh, aku bukan siapa-siapanya. Mungkin ia mengharapkan pesan dari wanita lain, atau ia akan menganggapku aneh dengan mengirimi pesan pukul sekian. Baiknya di kantor saja. Wanita itu menimbang dan memutuskan untuk bersembunyi di balik selimut.

13.10.14
Hari itu hari yang buruk untuknya. Terkena semprot bos di kantor, kehujanan, dan harus mempersiapkan materi meeting yang akan diselenggarakan esok hari. Dengan balutan baju kerja, ia merangkak ke atas kasur dan mulai bekerja.
"Ranya, tolong kamu cek sebagian materi yang harus kamu siapkan esok hari. Sudah saya email ke kamu. Thanks"
Wanita itu mendengus pelan, dasar bos, seenaknya sendiri. Ia mengunduh beberapa dokumen yang dimaksud. Setelah menguap beberapa kali, ia memutuskan untuk membuka "jurnal" lelaki itu. Sebuah kesalahan besar.

ternyata benar, ia mengharapkan wanita lain. Firasatku benar, doaku untuk semoga salah-lah yang tak terkabulkan....

Jumat, 10 Oktober 2014

Pergi

http://24.media.tumblr.com/tumblr_luytytOGa01r2aazho1_500.jpg

Sudah lama
Semenjak kepergianmu yang bahkan aku tak mengerti kenapa
Yang aku tahu adalah arah kepergianmu
Menuju jalan bertabur mutiara yang mungkin akan menyesatkanmu
Dulu kamu berbisik padaku,
kamu mencintaiku. lalu mengapa kamu meninggalkanku?
Aku masih di sini
Terduduk di kursi goyang berbahan kayu beraroma sendu
Tentunya semenjak kepergianmu
Tak lupa aku menggunakan kemejamu dan termangu
Dulu kemeja abu-abu ini adalah tempatku menawarkan rindu dalam pelukmu
tapi dulu adalah dulu...

Aku tak pernah menyangka, kita akan memiliki pelukan terakhir
Tak pernah membayangkan, akan berakhir seperti ini.
Namamu akan selalu berada dalam dinginnya tubuhku, yang tak lagi pernah kau rengkuh.

Harga Sikap Perempuan?

http://favim.com/orig/201105/18/beautiful-braid-floral-girl-mask-pearls-Favim.com-48649.jpg
Perempuan itu merelakan jemarinya terasa pegal, menunda pekerjaannya, menahan kantuk matanya,
hanya untuk mempersembahkan dirinya untuk lelaki yang dicintainya.
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan lelaki itu.

Perempuan itu merelakan hatinya, untuk dicuri, dirampas
hanya dengan sapaan hai dan ramah tamah lelaki pencuri itu.

tapi, sejatinya perempuan tak pernah melakukan hal-hal itu dengan ikhlas, rela sepenuhnya.
pengorbanan perempuan-perempuan itu tidaklah gratis.
jika kalian para lelaki tidak mampu untuk membayarnya,
maka jangan pernah mengambilnya.

tak ada perempuan yang rela pengorbanannya disia-siakan.
perhatian, pengorbanan tidaklah gratis.
semuanya harus dibayar setimpal.

Kamis, 18 September 2014

Tak Bertatap Muka, Tapi Bersandar Hati

http://images6.fanpop.com/image/photos/32900000/LDR-long-distance-relationships-32990232-480-328.jpg

Orang berkata, jangan mencintai seseorang hanya karena kamu melihat fisiknya yang indah.
aku menuruti perkataan orang-orang tersebut.
jelas sajalah, kita bahkan tak pernah bertemu.
Orang berkata, dialah orangnya ketika dia memberi efek "hmmp" di perutmu. membuat perutmu tergelitik dan napas terasa sesak.
apa mungkin kamu orangnya?
semua pesan-pesanmu yang masuk, getarnya tidak pernah menggelitik pahaku, mengingat alat kecil ini selalu kuletakkan di saku celana.
ia menggelitik tepat di perutku, semuanya terasa teraduk namun tidak membuatku mual.
itulah efek "hmmp"
dan detik saat aku membaca pesanmu, di situlah aku terus-terusan menahan napas.
semua terasa sesak hingga tanda titik di akhir pembicaraan menyadarkanku untuk kembali menghirup oksigen.
Kita memang tak bertatap muka, ya mau bagaimana lagi?
kita dipisahkan oleh jarak sejauh ribuan kilometer.
Tapi aku bersandar hati.
mau tak mau, suka tak suka, bukan aku yang memilih.


dan kisah ini akan terus berlanjut..
hingga batas waktu yang sudah ditentukan oleh Tuhan

Minggu, 27 Oktober 2013

Benda yang ditemukan (Lagi)


Ini sudah larut malam dan aku masih bimbang.
Aku yang sudah memutuskan untuk membekukan benda ini, untuk mengawetkannya meski isinya sudah tak ada lagi (untuk investasi masa depan, haha) semenjak tergores parah (dan tak sempat ku perbaiki). Tergores paku, lalu ditancapkan. Dan benda ini tak akan pernah sama. Walau sudah beregenerasi menjadi yang baru.

Angin berhembus membunyikan desingannya, sekali lagi aku masih bimbang.
Aku sudah menyembunyikan benda ini ditumpukan paling bawah, belakang, pojok sebuah lemari pembeku. Tapi kau tetap menemukannya. Seakan belum puas merusaknya, kau melumerkannya. Apakah berusaha menggoresnya untuk kesekian kali kembali? Aku yakin iya.
Tolong, aku memohon untuk mengembalikan benda itu ke tempatnya kembali. Biarkan dia membeku kosong di lemari pembeku. Aku mohon jangan melukainya jika memang ingin melumerkannya. Isi namun jangan pernah ambil kembali isinya, perbaiki dan jangan goreskan luka lagi padanya.

Ini berawal di waktu dulu.....
Tatap mata kita bertemu. Aku sedikit iritasi padamu. Tak perlu kusebutkan mengapa, karena aku juga tak tahu alasannya. Tapi mereka mempertemukan kita. Mulailah benda itu terisi olehmu. Aku harap kamu tak akan pernah mengosongkannya. Semuanya berjalan baik-baik saja. Hingga pada waktu itu, antara dulu – dan sekarang.

Benda yang sudah terisi penuh tiba-tiba saja kau gores tanpa alasan yang jelas. Seakan belum puas, kau tancapkan paku, dan melepaskannya. Benda itu terluka, semua isinya tumpah, hampir saja dinding-dindingnya menempel satu sama lain. Untung saja aku, pemilik benda itu dengan cekatan mengawetkannya sebelum dindingnya menempel satu sama lain dan tak akan bisa diisi kembali. Ketika benda itu berubah menjadi biru karenamu, kamu memerahkan benda lain, milik orang lain.
Ternyata ini semua belum berakhir. Masih ada chapter II. Sekarang di mana aku masih belum tahu, akan kau apakan benda itu, setelah kau menemukannya.

Selasa, 11 Juni 2013

Bukan yang Terakhir, Semoga


Pagi itu kita sama-sama berangkat sekolah dengan sejuta harapan. Aku berharap agar ujian prakterkku hari ini lulus dengan mulus, dan kamu berharap agar ujianmu lulus lolos. Pagi itu aku juga mengirim pesan padamu jangan lupa berdoa untuk kelulusanmu, dan kamu juga berpesan padaku untuk hal serupa. Kita merapal doa untuk aku, kamu, kita.
Siang itu senyummu lebar sekali. Aku yang masih belum bisa tersenyum sepertimu karena ujianku belum selesai, setidaknya bisa sedikit lega akan kabar bahagiamu. Selamat, lulus, dan nilaimu dapat membuat orang tuamu tersenyum. Dari sini, aku melihatmu mencorat-coret seragam putih abu-abu. Rambut hitammu berubah menjadi warna-warni pewarna yang disemprotkan temanmu. Sekilas kita bertatap mata, saling bertelepati mengabarkan berita. Melempar senyum. Dan semuanya kembali seperti semua. Seolah tidak terjadi apa-apa dan kembali menutupinya. Aku bisa menangkap telepati itu. Kamu berpesan untuk menemuimu di tempat seperti biasa.
Sore itu setelah ujianku selesai, aku berpamitan dengan teman-temanku dan pergi menuju tempat kita menawarkan rasa rindu. Seperti biasa, kita terduduk di meja nomor tujuh, dengan sofa berwarna biru dan meja abu-abu. Kamu memulai percakapan sore itu,
“Gimana, ujian kamu?”
“Gagal. Satu kelas mengulang. Lusa. Tapi aku tidak bisa hadir”
“Lalu? Sabarkan dirimu, beliau memang seperti itu”
“Biarkan saja. Selamat ya” ucapku dengan nada bergetar. Kamu menatap kaca-kaca yang terlukis jelas di mataku.
“Bibirnya jangan digigit. Nanti berdarah” ucapmu lembut, menyunggingkan senyum.
“Tanda tangani bajuku, di bagian sini. Sedari tadi aku tempeli selotip besar, aku menyisakan ruang tanda tanganmu” lanjutmu melepas selotip bening yang sudah ternodai oleh warna-warni pewarna yang berada tepat di atas saku berlambang OSIS-mu. Tak lupa kamu menyodorkan spidol biru.
“Sudah” ucapku meremas rok seragamku.
“Kamu sudah jadi bagian dari seragamku haha” namun aku diam tak menanggapi kalimatmu kali ini. Kamu tahu.
“Strenght does matter. Not with distance” ucapmu seraya membaca pikiranku.
“UHUK!” suara segerombolan siswa-siswi angkatanmu terdengar jelas. Nampaknya kamu memang sengaja memunculkan mereka. Sudah bosan dengan bersembunyikah kamu?
Maukah kamu menjaga agar semua ini tetap rahasia?
Tentu
Bisa membungkam temanmu?
Bisa, untuk kamu.
Setidaknya itu yang ku baca dari sinar matamu. Selamat, semoga sampai tujuan.

Jumat, 26 April 2013

Cerita di Pojok Kafe

Aku menikmati musim gugur. Selalu. Musim yang selalu aku tunggu.
Hari ini musim gugur di hari ke 30, hari ke 30 pula pada pukul empat sore aku mengunjungi kafe ini dan terduduk di pojok dengan sofa berwarna hijau tosca dan meja kayu berwarna cokelat gelap. Tak lupa secangkir teh dan lasagna tersaji hangat.
Setiap hari mataku selalu menyapu keseluruhan kafe. Aku memang duduk sendiri, bukan karena statusku. Melainkan aku menikmati kesendirianku. Jangan tanya tentang crush, aku tak punya. Aku sedikit laergi dengan makhluk yang bernama cowok. Jangan pernah berpikir aku lesbian. Agamaku melarang keras.

Pelayan di sini sudah sangat hafal dengan pesananku. Bahkan ketika aku datang, aku hanya tersenyum sedikit dan mengacungkan telunjukku, sepuluh menit kemudian hidangan yang aku inginkan sudah tersedia di depan mejaku. Aku hampir hafal wajah-wajah pelanggan toko ini dan di mana tempat duduk mereka. Contohnya pemuda dengan rahang dan dagu tegas yang duduk di depanku. Sorot matanya tajam, dan mempunyai lesung di kedua pipinya. Hampir setiap hari ia berganti-ganti pasangan. Pasangan duduk, pasangan kencan. Hampir setiap dua hari sekali pula ia memutuskan hubungannya.

Serong ke kanan, tiga hari sekali kau akan selalu mendapatkan segerombolan remaja berseragam putih abu-abu yang selalu menggosipkan cinta, guru, dan cerita remaja lainnya. Rupanya mereka anak baik-baik. Sesekali aku mendengar salah satu dari mereka mengkritik habis-habisan tentang budaya menyontek yang sangat populer di kalangan remaja. Katanya, jika kecilnya saja sudah menyontek, besarnya mau jadi apa? Koruptor? Katanya juga, jika kita menyontek di masa kini dan akan membawa pengaruh pada pencarian pekerjaan kita kelak, dan kita mendapatkan posisi bagus karena nilai hasil menyontek kita, kita akan memakan uang haram. Aku juga ingat salah satu dari mereka pernah berkata, ia tak mengerti dengan siswa yang berbicara bahwa untuk apa pemerintah melarang siswa menyontek sementara mereka sibuk korupsi, Siswa itu menanggapi dengan sebuah kalimat bijak "Kalau begitu siswanya pengen jadi koruptor juga dong? Kalau bukan kita siapa lagi?". Simple, and smart.

Setiap hari kau akan melihat seorang wanita yang selalu dibukakan pintu mobil oleh kekasihnya, dan ditarikkan bangku oleh kekasihnya. Emansipasi, bullshit. If you said itu adalah how to treat girl right, you're deadly wrong. Be a gentlemen is to protect, bukan memanjakan, membentak. Sepasang kekasih itu akan memesan duduk di dekat jendela dengan kusen bundar. Sang lelaki memesan kentang goreng dengan porsi besar dan secangkir kopi, sementara sang wanita memesan teh hangat beraroma melati saja. Tipe wanita yang sangat ingin menjaga bentuk tubuh. That's suck.

Setiap hari Sabtu pukul lima sore, sang pelayan berambut panjang akan dijemput oleh kekasihnya. Melambaikan tangan pada temannya yang berambut midi. Sang teman membalas lambaiannya dengan senyum getir, rupanya sang teman juga mencintai kekasih si rambut panjang. Terlihat jelas dari sorot matanya. It won't lie.

Di samping mejaku, setiap seminggu sekali akan ada segerombol remaja wanita yang lagi-lagi talking about bullshit called romance. Like seriously, why don't they just talking about something more classy? Like politics? They will looks hotter, and sexier. That's what my type of man, said. Yang kudengar secara sering adalah salah satu dari mereka yang bernama Elle, dijodohkan teman-temannya dengan seseorang bernama Adam. Salah satu dari mereka yang gemar mengurai rmabut hitam panjangnya nampak jelas cemburu. Selalu mengalihkan pembicaraan. Ingin rasanya aku mendatangi si wanita cemburu itu dan berbisik "well. you're too pretty to be jealous" because I know how that's feels.

Jam enam, aku beranjak pulang. Menutup sebuah lembaran, kisah kafe sore ini.

Sabtu, 26 Januari 2013

Pelabuhan dan Kapal Bodoh


Saya kapal bodoh, meninggalkan sebuah pelabuhan dengan ombak tenang, pemandangan indah, dan hanya ada saya saja di dalamnya begitu saja hanya untuk berlayar dan melabuh ke pelabuhan lain yang sebenarnya saya sudah tahu bahwa pelabuhan itu akan melubangi saya dengan karang-karang tajamnya, ombak ganasnya dan juga mematahkan penyangga layar saya dengan petir-petir menyakitkannya.

Saya kapal tidak tahu diuntung, berlabuh ke pelabuhan lain tanpa sedikitpun meninggalkan jejak tanda terimakasih pada pelabuhan terindah yang pernah saya singgahi. Pantas jika ikan-ikan mencemooh saya karena meninggalkan sesuatu yang indah untuk mencelakakan diri untuk melabuh pada pelabuhan termengerikan yang semua makhluk laut hindari, ikan ganas sekalipun.

Dan kini saya ingin kembali berlabuhpada pelabuhan terindah itu, salahkah walau di sana sudah ada sebuah kapal yang berlabuh anggun?

Untukmu (sayang)


Kepada seseorang yang (dulu) dengan bebas bisa kupanggil sayang. Izinkan aku memanggilmu sayang dalam surat ini.
Maafkan aku sayang, untuk tidak bisa menjadi yang terbaik bagimu.
Siang tadi aku menelusuri koridor sekolah kita, dan menemukan banyak bayangan kita. Bayangan yang menunjukkan saat kamu menggodaku dengan berbagai tingkah konyolmu, saat kamu mengungkapkan kata-kata ajaib, saat kamu menenangkan aku, saat kamu mengantarku ke mobil yang menjemputku. Bahkan aku tahu persis bahwa kamu tidak pernah membuatku menangis, selalu berusaha keras membuatku tertawa di bawah tekanan berbagai masalah.
Kamu terlalu baik, sayang, dan sayangnya aku baru menyadari itu.
Aku merindukan sikap manismu yang dulu, senyumanmu yang tertuju untukku. Sungguh, aku meminta maaf untuk menyakitimu dengan berbagai sikapku yang tidak menghargaimu kala itu.
Kamu baik, terlalu baik untuk melakukan banyak hal kecil, indah, manis padaku kala itu. Aku tidak bisa membalasnya. Aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya, tapi kamu bersikukuh ingin mempertahankannya. Bodoh sekali aku, tetap melepasmu begitu saja hanya untuk seseorang yang sudah aku tahu akan menyakitiku kelak. Sayang, aku tahu aku melakukan hal yang salah, tapi kala itu entah mengapa aku tetap melakukannya. Sekali lagi, maafkan aku sayang. Tidak bisa mengerti rasa sayangmu dan keindahan memilikimu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu.
Sayang, aku tahu aku salah untuk tidak bisa melupakanmu yang telah berada di pelukkan wanita lain. Tapi sayangku, aku belum bisa, atau mungkin tidak bisa merelakanmu dengan wanita itu. Bagaimana mungkin aku merelakan wanita itu membuat mulut manismu mampu berkata kasar sedangkan dulu waktu itu kamu selalu bertutur kata halus? Kamu berubah, sayang.
Sayang, aku menginginkanmu, merindukanmu, yang dulu. Sayang, salahkah apabila aku berharap agar kamu kembali pada kamu-ku yang dulu? Dan mengulang semuanya bersamaku? Semoga ini belum terlambat sayang.  Jangan berubah menjadi seseorang yang tak lagi aku kenal.
Aku (masih) mencintaimu, sayang.

Minggu, 20 Januari 2013

Lelaki yang Sama


             “Aku mencintainya”

             “Aku juga”

             “Cintaku sangat besar”

             “Cintaku juga!”

             “Kita berdua sama-sama mencintai pria yang sama dengan kadar cinta yang tidak bisa dibilang remeh”

           “Aku iya, semoga kamu juga begitu”

           “Jangan remehkan aku”, kemudian wanita pertama membetulkan letak kacamata semi kotaknya yang berwarna cokelat tua. Menghembuskan nafasnya pelan, tapi panjang. Kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa merah maroon yang sangat menggoda untuk diduduki.

        “Tidak. Aku tidak pernah meremehkan lawanku, sebagaimanapun lawanku” jawab wanita kedua kemudian mengaduk cokelat panasnya yang tak lagi panas. Menatap rerintikan hujan di luar cafe yang berlokasi strategis namun nyaman itu.

         “Kita lawan? Kukira kita sahabat?”, dahi wanita pertama mengerut.

         “Setidaknya lawan dalam memperjuangkan cinta, di luar itu kita sahabat”

         “Tapi bukankah itu berarti, jika salah satu dari kita menang, salah satu dari kita juga akan terluka? Sahabat tidak akan saling melukai, bukan?” tanya wanita pertama dengan nada khawatir.

        "Kita sudah dewasa, harus membuka pikiran kita seluas mungkin. Sedalam apapun, sebesar apapun cinta kita pada pria itu, kita juga harus siap kehilangan”

         “Kamu benar. Tapi menurutku cintaku lebih besar terhadapnya, aku jatuh cinta padanya lebih dulu daripada kamu”

                “Cinta tidak memandang cinta siapa yang lebih besar atau siapa yang mencintai lebih dulu, yang aku tahu cinta memihak pada yang berjuang, pada yang menyatakan”, kata wnaita kedua sambil mengetuk-ngetuk meja di depannya dengan jemari lentiknya.

              “Tapi aku sudah menceritakan perasaanku pada banyak orang, kamu belum”

             “Perasaan sayang tidak harus disebar-sebarkan ke banyak orang, apalagi dipamer-pamerkan. Cukup direalisasikan secukupnya”

                “Kamu benar” wanita pertama itu melunak, mengakui.

                “Semoga”

                “Kamu mau berjuang?”

                “Tentu. Ayo pulang, sudah larut malam”

                “Ayo”

           Dan kedua wanita itu berjalan berdampingan menuju pintu keluar. Dengan hati yang sama-sama berusaha memperjuangkan lelaki yang sama, dan persahabatan yang harus tetap terjaga.

Followers