Minggu, 20 Januari 2013

Lelaki yang Sama


             “Aku mencintainya”

             “Aku juga”

             “Cintaku sangat besar”

             “Cintaku juga!”

             “Kita berdua sama-sama mencintai pria yang sama dengan kadar cinta yang tidak bisa dibilang remeh”

           “Aku iya, semoga kamu juga begitu”

           “Jangan remehkan aku”, kemudian wanita pertama membetulkan letak kacamata semi kotaknya yang berwarna cokelat tua. Menghembuskan nafasnya pelan, tapi panjang. Kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa merah maroon yang sangat menggoda untuk diduduki.

        “Tidak. Aku tidak pernah meremehkan lawanku, sebagaimanapun lawanku” jawab wanita kedua kemudian mengaduk cokelat panasnya yang tak lagi panas. Menatap rerintikan hujan di luar cafe yang berlokasi strategis namun nyaman itu.

         “Kita lawan? Kukira kita sahabat?”, dahi wanita pertama mengerut.

         “Setidaknya lawan dalam memperjuangkan cinta, di luar itu kita sahabat”

         “Tapi bukankah itu berarti, jika salah satu dari kita menang, salah satu dari kita juga akan terluka? Sahabat tidak akan saling melukai, bukan?” tanya wanita pertama dengan nada khawatir.

        "Kita sudah dewasa, harus membuka pikiran kita seluas mungkin. Sedalam apapun, sebesar apapun cinta kita pada pria itu, kita juga harus siap kehilangan”

         “Kamu benar. Tapi menurutku cintaku lebih besar terhadapnya, aku jatuh cinta padanya lebih dulu daripada kamu”

                “Cinta tidak memandang cinta siapa yang lebih besar atau siapa yang mencintai lebih dulu, yang aku tahu cinta memihak pada yang berjuang, pada yang menyatakan”, kata wnaita kedua sambil mengetuk-ngetuk meja di depannya dengan jemari lentiknya.

              “Tapi aku sudah menceritakan perasaanku pada banyak orang, kamu belum”

             “Perasaan sayang tidak harus disebar-sebarkan ke banyak orang, apalagi dipamer-pamerkan. Cukup direalisasikan secukupnya”

                “Kamu benar” wanita pertama itu melunak, mengakui.

                “Semoga”

                “Kamu mau berjuang?”

                “Tentu. Ayo pulang, sudah larut malam”

                “Ayo”

           Dan kedua wanita itu berjalan berdampingan menuju pintu keluar. Dengan hati yang sama-sama berusaha memperjuangkan lelaki yang sama, dan persahabatan yang harus tetap terjaga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Followers